Beranda Rejang Lebong Empat Dekade di Tanah Transmigrasi, Riani Akhirnya Temukan Kehidupan Lebih Baik di Air Kati
Rejang Lebong

Empat Dekade di Tanah Transmigrasi, Riani Akhirnya Temukan Kehidupan Lebih Baik di Air Kati

Rejang Lebong, (Naskah Rakyat) –
Hidup tak selalu berjalan mulus. Begitu pula kisah Riani, seorang perempuan tangguh asal Jawa Timur, Kabupaten Nganjuk yang kini menetap di Desa Air Kati, Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT), Kabupaten Rejang Lebong.

Ia datang ke Sumatera empat dekade lalu sebagai peserta program transmigrasi, meninggalkan kampung halaman demi harapan hidup yang lebih baik.

Namun, perjalanan itu tidak semudah yang dibayangkan. Dengan semangat dan cucuran air mata diahun 1983, Riani bersama suaminya dan satu anak kecilnya menempuh perjalanan panjang menggunakan kapal menuju Pulau Sumatera.

Sesampainya di lokasi transmigrasi, mereka hanya menemukan hamparan hutan dan semak belukar.

“Waktu pertama datang, kami cuma dikasih rumah papan dan lahan kosong. Hujan deras, jalanan tanah, listrik belum ada. Malam-malam kami hanya pakai pelita,” kenangnya, sambil tersenyum tipis, Selasa (7/10/2025).

Suaminya saat itu bekerja serabutan, menebas ladang orang, sementara Riani mencoba menanam sayur di pekarangan. Seringkali hasil panen gagal karena cuaca tidak menentu. Makan seadanya menjadi hal biasa bagi keluarga kecil itu.

“Kadang cuma nasi sama garam. Bila bantuan dari Pemerintah datang kami sedikit lega, karena ada sarden dan ikan asin yang menjadi penikmat makan. Tapi kami tetap bertahan,” tuturnya lirih.

Dengan keringat dan tangisan anak ia perlahan bangkit. Semangat dan doa serta kerja keras dan kesabaran menjadi kunci kebahagiaannya. Kini, Riani memiliki lapak kecil di depan rumahnya.

Ia menjual berbagai makanan seperti nasi uduk, gorengan, dan jajanan tradisional yang menjadi favorit warga sekitar. Setiap pagi, lapaknya ramai pembeli, mulai dari anak sekolah hingga petani.

Setelah 40 tahun merantau, Riani mengaku sudah merasa benar-benar menjadi bagian dari masyarakat Air Kati. Ia bahkan aktif dalam kegiatan di desa dan sering membantu tetangga yang membutuhkan.

“Kalau dulu saya sering menangis karena rindu kampung halaman, sekarang justru saya bersyukur. Di sinilah saya menemukan arti bahagia,” ujarnya dengan tawa bahagia

Bagi Riani, transmigrasi bukan sekadar pindah tempat tinggal, tapi perjalanan panjang menuju kehidupan yang lebih mandiri.

“Kalau kita mau berusaha dan sabar, di mana pun bisa hidup. Tuhan pasti kasih jalan,” ucapnya penuh makna.

Penulis : Dom

Sebelumnya

Gubernur Sumsel dan Wali Kota Lubuk Linggau Kompak Jaga Stabilitas Keuangan Daerah

Selanjutnya

Mobil Tangki PT Dua Bintang Corp Ditangkap Anggota Pidsus Polres Muratara

admin
Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Naskah Rakyat
Alaku
Alaku